Pengakuan mengejutkan datang dari seorang individu yang mengidentifikasi dirinya sebagai pengelola atau "bos" dari jaringan penyebar opini di media sosial terkait pesanan konten-konten strategis. Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan bagaimana narasi-narasi tertentu disusun secara sistematis untuk memengaruhi opini publik, termasuk konten yang menyerang sosok Tom Lembong, isu korupsi tata niaga timah, hingga upaya menyudutkan pimpinan lembaga negara tertentu. Operasi ini dilakukan dengan tujuan mendistorsi informasi dan menciptakan sentimen negatif terhadap pihak-pihak yang menjadi sasaran melalui berbagai platform digital.
Skema kerja jaringan ini melibatkan pembuatan konten yang masif dan terstruktur, mulai dari video pendek, infografis, hingga tulisan yang disebarkan oleh akun-akun anonim secara serentak. Sang pengelola membeberkan bahwa isu-isu sensitif seperti kasus hukum yang sedang berjalan sengaja dikemas sedemikian rupa untuk mengalihkan perhatian publik atau justru menekan pihak lawan. Ia mengakui adanya aliran dana dan instruksi khusus di balik penyebaran narasi-narasi tersebut, yang sering kali mengabaikan fakta demi mencapai target komunikasi yang diinginkan oleh pemesan.
Dampak dari aktivitas ini telah menciptakan kegaduhan di ruang digital dan memicu polarisasi di tengah masyarakat yang mengonsumsi informasi tersebut tanpa verifikasi lebih lanjut. Munculnya pengakuan ini menjadi sorotan tajam mengenai etika komunikasi digital dan bahaya manipulasi informasi dalam konstelasi politik serta hukum di Indonesia. Pihak-pihak terkait yang merasa dirugikan oleh narasi pesanan tersebut mulai menyuarakan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap aktivitas penyebaran konten hoaks dan fitnah yang terorganisir.
Pengakuan dari pengelola jaringan opini ini membongkar praktik manipulasi informasi di media sosial yang menargetkan tokoh publik dan kasus-kasus hukum besar untuk tujuan tertentu. Hal ini menegaskan adanya ekosistem penyebaran konten pesanan yang bekerja secara sistematis untuk membentuk persepsi publik melalui narasi yang menyudutkan pihak-pihak tertentu tanpa landasan fakta yang utuh.
Kamu harus terdaftar atau login untuk berkomentar Masuk?
redaktur