clock December 24,2023
Filosofi Kursi Raksasa Berkaki Tiga di Markas PBB Jenewa: Simbol Perlawanan Terhadap Ranjau Darat

Filosofi Kursi Raksasa Berkaki Tiga di Markas PBB Jenewa: Simbol Perlawanan Terhadap Ranjau Darat

Tepat di seberang Istana Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss, berdiri sebuah instalasi seni yang sangat mencolok berupa kursi kayu raksasa setinggi 12 meter. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, kursi yang dikenal sebagai "Broken Chair" ini memiliki keunikan yang menyentuh hati, yakni salah satu kakinya tampak patah dan hancur di bagian bawah. Monumen monumental ini bukan sekadar karya seni biasa, melainkan simbol kuat dari kampanye melawan penggunaan ranjau darat dan bom curah di seluruh dunia. Dibuat oleh seniman Daniel Berset atas inisiatif organisasi Handicap International, kursi ini sengaja dirancang dengan satu kaki yang rusak untuk menggambarkan penderitaan para korban konflik bersenjata yang kehilangan anggota tubuh mereka akibat ledakan ranjau. Meskipun salah satu penyangganya hancur, kursi tersebut tetap berdiri tegak dan kokoh. Hal ini mengandung pesan filosofis tentang martabat dan keteguhan hati para korban perang yang tetap berjuang melanjutkan hidup meski fisik mereka tidak lagi utuh. Selain itu, keberadaannya di depan markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa bertujuan sebagai pengingat bagi para diplomat dan pemimpin dunia yang melintas agar selalu memprioritaskan kemanusiaan dalam setiap kebijakan politik mereka. Awalnya, instalasi ini direncanakan hanya berdiri selama tiga bulan saat penandatanganan Perjanjian Ottawa pada tahun 1997. Namun, karena pesan moralnya yang sangat kuat dan mendapat dukungan luas dari masyarakat internasional, kursi raksasa tersebut akhirnya dipertahankan secara permanen sebagai pengingat bisu bahwa perjuangan untuk dunia yang bebas dari senjata mematikan belum berakhir.

Kamu harus terdaftar atau login untuk berkomentar Masuk?

Follow US

Top Categories