Munculnya tren job hugging atau kecenderungan untuk bertahan erat pada posisi jabatan yang ada kini menjadi sorotan dalam dunia birokrasi Indonesia. Fenomena ini dianggap sebagai alarm sunyi yang menandakan adanya hambatan dalam proses reformasi sumber daya manusia di sektor publik. Di tengah tuntutan digitalisasi dan fleksibilitas, banyak Aparatur Sipil Negara (ASN) yang justru memilih untuk tetap berada di zona nyaman dan enggan mengambil risiko melalui rotasi maupun promosi yang menantang. Kondisi ini dipicu oleh struktur birokrasi yang masih kental dengan hierarki dan budaya kerja yang kurang mendukung lahirnya gagasan baru. Banyak pegawai merasa bahwa melakukan inovasi atau tampil beda justru mendatangkan risiko administratif atau politik di lingkungan kerja mereka. Akibatnya, bertahan di posisi yang sama dianggap sebagai strategi paling aman untuk menjaga kelangsungan karier, meskipun hal tersebut dapat memicu stagnasi pada produktivitas organisasi. Dari satu sisi, bertahannya pegawai berpengalaman memang dapat menjaga stabilitas pelayanan publik agar tetap berjalan tanpa gangguan teknis. Namun di sisi lain, jika motivasi utama hanya demi keamanan posisi tanpa adanya keinginan untuk berkembang, birokrasi terancam kehilangan daya saing. Pegawai cenderung hanya menjalankan rutinitas formalitas tanpa memberikan terobosan yang berarti bagi masyarakat.
Kamu harus terdaftar atau login untuk berkomentar Masuk?
redaktur