Open top menu
#htmlcaption1 Wisata Pulau Jemur sepi pengunjung Meet and greet Mata Najwa di PKM UIR Earth Hour di UIN Suska Riau
Selasa, 20 Juni 2017
no image



Si Hijau Beruban Nan Menggiurkan

Tigo limo ribu, tigo limo ribu, tigo limo ribu”. Hampir disepanjang jalan teriakan seperti itu terdengar, “Lado, bawang, murah ni, bali lah.” pun juga teriakan seperti ini. Banyak variasai dan irama berbeda dari teriakannya, meski terdengar bising dan memekakkan tapi hal itulah yang membuat pasar tradisional panam, atau yang akrab disebut dengan pasar selasa ini ramai oleh pengunjung. Apalagi tepat di hari selasa nya, bak konser artis, para pedagang di serbu pengunjung.
Ditengah lalu lalang pengunjung salah satu pasar yang begitu padat dan sesak, sebuah gerobak kayu bertuliskan “Kue Lumpang Hadi” berdiri tepat ditengah jalan. Seorang lelaki paruh baya duduk di belakang gerobak sambil menatapi lalu lalang pengunjung yang terkadang tidak sengaja menabrak gerobaknya. Sesekali ia berdiri mengambilkan pesanan pemnbeli, terlihat Ia mencampurkan kue berwarna hijau bersih itu kedalam kotak berisikan kelapa parut, mengaduk - aduk dengan tangan yang beralaskan plastik, dan memasukkannya ke kantong plastik untuk diberikan kepada pengunjung. Tak ada teriakan seperti penjual kebanyakan, namun para pengunjung banyak saja berdatangan. Meski hanya gerobak kecil yang ditemapti, tetapi nampaknya kualitas rasa tak diragukan.
 Mungil dan menggiurkan. Wangi pandan yang sangat khas serta warna hijau yang mencolok sangat menarik perhatian. Bentuknya yang simple dan menawan menjadi daya tarik tersendiri diantara banyaknya deretan meja pedagang yang dikerumuni orang yang berlalu lalang. Taburan kelapa parut diatasnya semakin menambah indah penampilannya, begitu menggugah selera.
Si hijau yang tampak beruban itu ialah kue lumpang. Kue lumpang merupakan salah satu cemilan khas Riau yang saat ini keberadaanya sudah sangat jarang ditemukan. Rasanya yang khas kerab dirindukan oleh para penikmat kuliner. Abdul, penjual “Kue Lumpang Hadi” juga mengatakan hal demikian, “baisanya hanya ada satu yang jualan ini di setiap pasar tu” ungkapnya.
Kue lumpang yang berbahan dasar tepung terigu dan tepung kanji ini memiliki wangi dan rasa yang sangat enak. Wangi pandan yang berasal dari pewarna alami daun pandan yang di blender, memberikan warna terang yang menarik. Daun pandan yang memang terkenal wangi, menyerbak hingga ke penjuru jalanan. Ibu - ibu pengunjung pasar acap kali datang menghampiri gerobak untuk membeli kue lumpang yang nikmat.
Harga yang di tawarkan Abdul, penjual kue lumpang pun sangat murah. Cukup dengan merogoh kocek uang lima ratus rupiah, penikmat kuliner bilsa menikmati satu buah kue lumpang. Meski ukuran kue yang kecil, hal itu sebanding dengan harga yang ditawarkan.
Kue lumpang dijual dengan harga murah, meskipun rasanya begitu nikmat. Hal itu dikarenakan bahan dasar kue lumpang yang juga tidak mahal, “Bahannyo murahnyo, tapuang kanji jo tapuang terigu” tutur Abdul menjelaskan alasannya. Tak ada bahan yang menonjol dari semuanya, hanya saja hasil yang didapatkan begitu memuaskan memuaskan.
Kenapa tidak? Dengan bermodalkan dua ratus ribu, Abdul bisa merauk keuntungan besar. Ketika jualan nya laris Abdul bisa menghasilka uang senilai tiga ratus ribu per harinya. Abdul pun tidak mempekerjakan satu pun karyawan. Ia hanya bekerja sendiri dan menjualkannya sendiri. Tidak dibantu oleh siapapun, termasuk istrinya. Ia hanya memberi tugas mengasuh anak dan menjaga rumah kepada istrinya.
Di tangan Abdul, cemilan khas riau satu ini menjadi begitu nikmat dan menggiurkan. Takaran bumbu yang pas, serta rasa yang manis dan gurih menjadikan kue Lumpang sebagai kue yang cukup diincar penikmat kuliner. Keberadaan kue lampang hadi menjadi salah satu pelestarian makanan khas Riau yang sudah hampir punah.
“Beli sepuluh ribu” kata - kata itulah yang paling sering di dengar ketika berdiri di dekat gerobak “Kue Lumpang Hadi”. Tak jarang pembeli langsung meminta untuk diambilkan sepuluh ribu uang untuk membeli kue lumpang. Harga nya yang murah meriah menjadikan nya sebagai cemilan yang makin diminati.
Selain itu, menikmati kue lumpang yang telah jarang ditemukan ini memiliki kesenangan tersendiri. Tiap gigitannya seperti membuat kita ikut melestarikan makanan tradisional serta rasa kecintaan terhdap makanan tradisionalpun kian bertambah. 

Penulis: Sefrita Zaher


Read more
Minggu, 18 Juni 2017
Pedagang Kaki Lima Penyebab Macet di Pasar Payakumbuh



PAYAKUMBUH- Sudah menjadi tradisi setiap akan memasuki Lebaran Idul Fitri kaum muslim berburu membeli baju lebaran untuk merayakan Idul Fitri. Tiap memasuki bulan Ramadhan permintaan terhadap busana muslim dan pakaian lainnya akan meningkat. Biasanya puncak-puncaknya di 10 hari terakhir. Dipastikan hampir semua pusat perbelanjaan, mulai dari mall sampai pasar tradisional akan ramai oleh pembeli yang jumlahnya selalu membeludak.(18/06/17)
Sangking ramainya, untuk pusat-pusat perbelanjaan seperti Pasar Payakumbuh dari tahun ke tahun hampir selalu dipastikan akan penuh sesak dan macet karena banyaknya penjual pakain menjual ditepi jalan.  Tidak 10 hari sebelum lebaran saja penjual pakaian menjajakan barang jualannya bahkan sebelum bulan puasa mereka sudah berjualan ditepi jalan, agar pembelinya mengenal lapaknya. Namun konsumen tetap saja belanja hampir mendekati Hari Raya Idul Fitri. Salah satu penyebabnya adalah Tunjangan Hari Raya yang keluar biasanya 2 minggu atau 1 minggu sebelum lebaran dari tempat mereka bekerja. “mau gimana kan, kalau nggak sekarang kapan lagi. Soalnya thr dari kantor keluar 2 minggu atau seminggu sebelum lebaran.” Ucap Adit, salah satu pengunjung di pusat perbelanjaan tersebut. (18/06/17)
Read more
no image



Ungkap Situs Purbakala



Ungkap Situs Purbakala, Tim Arkeolog Mulai Lakukan Penggalian di Bukit Candi Cerenti
Minggu,18 Juni 2017 - 12:45:17 wib
TELUK KUANTAN - Tim eksavasi atau penggali situs purbakala dari Balai Arkeolog Medan mulai melakukan penggalian di kawasan Bukit Candi desa Pulau Jambu kecamatan Cerenti.
Mereka sudah berada di lokasi selama tiga hari. Pada hari ketiga tim mengggali tiga buah lobang dilokasi yang sudah dipetakan sebelumnya.
Pada hari ketiga ini tim arkeolog dari Medan juga mendapat bantuan dari dosen dan mahasiswa jurusan Arkeolog Universitas Jambi untuk bersama-sama bekerja dilokasi guna menemukan kemungkinan adanya situs Purbakala (candi) disana.
Hal ini diakui salah seorang tokoh masyarakat Cerenti, Asriadi.
"Hari ketiga ini tim melakukan penggalian dan ada bantuan dari dosen dan mahasiswa jurusan Arkeolog Universitas Jambi. Tim dari Medan lima orang dari Universitas Jambi empat orang satu dosen dan tiga mahasiswa," ujarnya.
"Mudah-mudahan kerja keras tim ahli membuahkan hasil," ujarnya.
Sementara itu dari catatan yang ada dua lembaga terkait masing-masing Balai Arkeolog Medan dan Balai Pelestarian Cagar Budaya yang berkedudukan di Batu Sangkar Sumbar selama ini intens melakukan pemantauan dan eksavasi di dua lokasi yang diduga terdapat situs Purbakala di Kuansing masing-masing di Bukit Candi ini dan kawasan Padang Candi desa Sangau kecamatan Kuantan Mudik.
Kerja keras mereka diharapkan dapat menguak keberadaan situs Purbakala tersebut sehingga dapat merekonstuksi sejarah peradaban masyarakat Kuansing dimasa lalu selain sebagai asset wisata dan ilmu pengetahuan.
Sementara itu dari rangkuman berbagai sumber pada abad ke 7 Masehi dikawasan Kuansing saat ini pernah berdiri kerajaan Koto Alang dan Kandis.
Keberadaan sejumlahsitus Purbakala yang hendak diungkap saat ini terkait keberadaan kerajaan di Kuansing dimasa lalu itu.
Read more